Polisi Ceko Dikecam, Tandai Migran seperti Tahanan Nazi

Gambar Kompas.com | Seorang polisi Republik Ceko menggunakan sebuah spidol untuk menulis nomor pada seorang anak migran setelah menahan lebih dari 200 pengungsi, sebagian besar dari Suriah, di kereta api dari Hungaria dan Austria di stasiun kereta api di Breclav.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia dan pengacara mengecam polisi di Republik Ceko karena menulis nomor di lengan para migran setelah menahan mereka. Beberapa petugas polisi menggunakan pena untuk menandai 214 orang pengungsi, sebagian besar warga Suriah, yang ditahan di sebuah kereta, Rabu (2/9/2015), di perbatasan dari Austria dan Hungaria.

Tindakan tersebut telah menimbulkan kemarahan karena hal itu mengingatkan orang akan praktik Nazi Jerman ketika menomori para tahanan di kamp konsentrasi.

Kontroversi itu muncul saat ribuan migran yang putus asa menggelar protes di luar stasiun kereta api internasional utama Budapest, setelah pihak berwenang Hungaria menolak untuk membiarkan mereka naik kereta menuju Eropa Barat. 

Alp Mehmet, wakil ketua MigrationWatch, mengatakan kepadaMailOnline, "Ini salah dan konyol. Mereka memperlakukan para migran dengan cara yang bisa terlihat seperti mereka sedang memberi label pada para migran atau melakukan apa yang terjadi dengan orang-orang Yahudi pada masa Nazi Jerman. Saya bisa mengerti mengapa orang akan jijik dengan tindakan seperti ini." 

Andrew Stroehlein, Direktur Media Eropa Human Rights Watch, men-tweet sebuah foto yang menunjukkan seorang petugas sedang menandai seorang anak migran. 

Zuzana Candigliota, pengacara Liga Hak Asasi Republik Ceko, mengatakan, "Tidak ada hukum yang membolehkan polisi menandai orang-orang dengan cara seperti ini." 

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Republik Ceko, Lucie Novakova, mengatakan langkah itu dilakukan karena meningkatnya jumlah anak-anak di antara para pengungsi. "Tujuan kami adalah untuk mencegah anak-anak itu tersesat," tambahnya. 

Langkah itu digunakan untuk kelompok-kelompok besar pengungsi agar catatan anggota keluarganya tersimpan, kata Katerina Rendlova, juru bicara unit polisi Republik Ceko yang berurusan dengan orang asing. "Kami juga menulis kode kereta yang mereka gunakan saat tiba sehingga kami tahu ke negara mana kami harus mengembalikan mereka ke dalam sistemreadmission." 

Tidak seperti beberapa negara anggota Uni Eropa lainnya, pemerintah Republik Ceko mempertahankan bahwa para migran yang masuk ke negara itu tanpa terlebih dahulu membuat permintaan suaka harus dikembalikan ke negara dari mana mereka datang. Kebijakan itu sejalan dengan Ketetapan Dublin dari Uni Eropa. 

Mayoritas warga Ceko menentang menampung pengungsi. Demikian menurut sebuah survei pada Agustus oleh lembaga polling lokal, Focus. Sebanyak 93 persen responden mengatakan, para pengungsi harus dikembalikan ke negara asal mereka. 

Rendlova mengatakan, pengungsi "pernah diberi nomor pada selembar kertas tetapi mereka membuang kertas itu. Mereka telah sepakat untuk diberi tanda, mereka tidak punya masalah dengan itu, mereka tahu hal itu demi kepentingan mereka." 

Namun sejumlah aktivis hak asai manusia dan pengacara menyebut masalah hukum dan etika. "Saya kira mereka setuju karena mereka percaya polisi punya hak untuk melakukan hal itu," kata Candigliota. 

Pengacara Praha, Marek Dufek, menambahkan, "Saya tahu itu sulit karena para pengungsi tidak punya dokumen." Namun dia mempertanyakan apakah para pengungsi telah sepakat dengan cara diberi tanda. "Apakah mereka punya bentuk persetujuan yang ditandatangani dalam bahasa ibu mereka (para pengungsi)?" [Kompas dot Com]

Share on Google Plus

About Ulayat Blog

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar