Penghargaan ASTEKI 2011



Rekan-rekan yang baik,

Saya ucapkan terimakasih atas dukungan dan kerjasamanya sehingga acara penganugerahan ASTEKI AWARD 2011 yang berlangsung pada tanggal 27 November 2011 di ruangan Jusuf Ronodipuro, Gedung RRI Jakarta dapat terselenggara dengan baik.

Untuk pertamakalinya, ASTEKI memberikan penghargaan kepada individu maupun kelompok masyarakat yang memiliki inisiatif untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan, budaya dan inovasi teknologi media. Para pihak ini telah membuktikan bahwa media dan teknologinya tidak saja kepunyaan kaum elit dan kaum pemodal, tetapi dapat diarahkan untuk menunjang kerja-kerja gerakan dan aktivisme kemasyarakatan.

Pemberian penghargaan ASTEKI Award 2011, semata-mata bukanlah ajang kontestasi maupun acara komersil idol yang berorientasi kepada komersialisme, namun merupakan ajang untuk mempertegas semangat (spirit) dan empati (emphaty), tidak saja kepada para penerima penghargaan, namun khususnya kepada kami sendiri, ASTEKI, yang senantiasa terus berefleksi terhadap kerja-kerja media kerakyatan yang kami perjuangkan.

Semoga melalui ajang ini, akan semakin memperkuat silaturahmi dan ikatan kita sebagai pegiat media kerakyatan.

Salam ASTEKI.

Ridzki Rinanto Sigit



Kategori penerima penghargaan ASTEKI 2011
Ciptagelar TV (CIGA TV)-Kasepuhan Ciptagelar
Kategori 1 : Pengembangan Inovasi Teknologi Media

Yoyo Yogasmana dan isteri, CIGA TV Ciptagelar

Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah perkampungan masyarakat adat yang mendiami wilayah Gunung Halimun. Secara turun temurun mereka tekun melaksanakan dan menjaga tadisi warisan leluhur, yang sarat dengan harmonisasi alam. Kukuhnya mereka menjaga tradisi, menjadi bagian kehormatan warga, sekaligus penghargaan warisan leluhur, agar tak punah dan dilupakan.

Mempertahankan tradisi tak berarti harus menyisihkan diri dari perkembangan teknologi. Abah Ugi secara khusus menugaskan Yoyo Yogasmana untuk membuat daya inovasi teknologi dikasepuhan. Secara sederhana mereka sudah memanfaatkan media Televisi dan Radio untuk mendukung media komunikasi antar warga kasepuhan. Maka lahirlah  Ciptagelar TV atau CIGA TV.

Ciga TV juga diupayakan sebagai media yang menayangkan kegiatan masyarakat adat Ciptagelar. Mulai dari kesenian, hajatan, tradisi ritual hingga kegiatan warga lain seperti gotong royong. Dengan segala kreatifitasnya, Ciga TV dikelola Yoyo Yogasmana dibantu dua asisten Oha dan Jamang. Yoyo sendiri yang melakukan proses produksi dan liputan sekaligus mentor untuk dua asistennya.

Dengan jangkauan 1-2 km, CigaTV akan terus menyiarkan muatan lokal, membagi informasi budaya kepada generasi muda Ciptagelar. Yoyo, Abah dan masyarakat Ciptagelar lainnya berharap, kelak tayangan mereka bisa diketahui dunia luas. Dunia yang bisa menghargai budaya dan warisan Kasepuhan Ciptagelar.


Ony Mahardika-Sahabat Anak Lumpur (Porong)
Kategori 2 : Kerja Sosial Kemasyarakatan Melalui Media

Only Mahardika, Sahabat Anak Lumpur

Disaat banyak orang mulai lupa peristiwa lumpur lapindo, Ony mahardika bersama Sahabat Anak Lumpur justru gigih mengingatkan banyak orang tentang tragedi hilangnya beberapa desa di kecamatan Porong Sidoarjo. Selama ini publik diarahkan dengan urusan ganti rugi, aksi Ony dan kawan-kawan justru menggalang solidaritas donasi untuk pendidikan anak-anak korban lumpur.

Sahabat Anak Lumpur merupakan gerakan solidaritas yang dibentuk untuk menggugah kesadaran warga Jawa Timur mengingat kembali, setelah 5 tahun kasus lumpur Lapindo belum juga tuntas. Solidaritas ini bertujuan melihat kembali situasi kehidupan warga, salah satunya nasib pendidikan yang belum banyak dilirik oleh pengurus publik maupun lapindo.

Dirilis sejak Agustus 2011 lalu gerakan ini semakin berkembang seiring banyaknya dukungan dari mahasiswa dan masyarakat umum. Media jejaring sosial menjadi alternatif pilihan Ony untuk berbagi informasi soal gerakan solidaritas ini. Termasuk pantauan penyaluran donasi.

Kini tak kurang 300 lebih member grup Facebook mengarahkan donasinya melalui Sahabat Anak Lumpur, jumlahnya memang tak signifikan, namun solidaritas yang dibangun menjadi kekuatan dari  gerakan ini.


Dominikus Uyub-Pegiat Budaya Dayak Kayaan/Kalimantan Review
Kategori 3 : Pengembangan Budaya dan Resolusi damai Melalui Media

Dominikus Uyub, pegiat kebudayaan/ Kalimantan Review

Kecintaan budaya peninggalkan leluhur, telah membuat seorang Dominikus Uyub tekun menggeluti budaya dayak khususnya dayak Kayaan di Kapuas Hulu. Pengalaman masa kecil berkesenian bersama sang ayah di komunitas Dayak Kayaan Dusun Pagung, Desa Datah Diaan, kecamatan Putussibau Selatan. Mempengaruhi kepribadian Uyub saat dewasa. Pandangan hidup, ideologi dan semangat untuk mempertahankan budaya dayak di Kalimantan Barat ia pegang teguh.

Sejak usia 7 tahun Uyub telah menjadi salah satu pemain “Sape” di wilayah Kalbar, ia memainkan ragam Dayak Kayaan, baik secara sendiri maupun bersama kelompok sanggarnya. Berbagai pementasan di sekitar Pontianak, Kalbar hingga luar daerah sudah dilakoninya.

Kegelisahannya atas budaya dayak yang disampaikan tak utuh telah menggerakkan tekadnya untuk memberi pemahaman kepada masyarakat lebih mendalam. Jiwa kesenimanannya tak cukup hanya dengan bermain musik, pilihan menuangkan gagasan pun ia wujudkan melalui tulisan-tulisan di Kalimantan Review (KR).

Kalimantan Review dalam perjalanannya kemudian yang menjadi media ekternal Institut Dayakologi yang banyak direferensi orang. Uyub dengan budaya dan gagasan ideologinya akan terus membagi pemahaman soal Dayak dengan terus berkesenian dan menulis.
Share on Google Plus

About Loenbun Saja

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar