Menjala Ikan, Nelayan Mendapat Batu Bara

BENGKULU, KOMPAS.com — Para nelayan di Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, mengeluhkan limbah batu bara yang mulai mencemari perairan di sekitar muara Sungai Bengkulu.

"Limbah batu bara dari Sungai Bengkulu sudah masuk ke laut, sekarang sudah sampai di pantai Jakat, jadi kami kesulitan mencari ikan dengan sampan," kata Tarman, seorang nelayan di Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, Minggu (3/4/2011).

Limbah batu bara yang terbawa dari Sungai Bengkulu sudah memenuhi kawasan pantai berjarak 1 kilometer dari muara sungai tersebut.

Akibatnya, para nelayan yang mencari ikan dengan cara menyebar jala lalu ditarik bersama-sama atau mengelok pukek tidak pernah lagi dilakukan.

"Karena yang terjaring justru pecahan-pecahan kecil dan besar batu bara, tidak ada lagi ikan," katanya.

Banyaknya limbah batu bara yang sampai ke bibir pantai membuat ratusan pengumpul setiap hari menjaring batu bara di pantai itu.

Tidak hanya wilayah tangkap ikan nelayan yang tercemar, limbah batu bara yang terbawa dari kawasan pertambangan di Kabupaten Bengkulu Tengah itu pun terancam mencemari kawasan wisata Pantai Panjang.

"Limbah batu bara sudah masuk ke laut, termasuk obyek wisata Pantai Panjang akan dipenuhi limbah batu bara," kata Sekretaris Forum Peduli Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu Refi Rusfiansyah.

Perputaran arus laut membuat sebagian besar limbah tersebut bergerak menuju utara Kota Bengkulu hingga ke Kecamatan Lais, sekitar 30 kilometer dari kota.

Sepanjang bibir pantai tersebut dipenuhi pengumpul limbah batu bara yang menjual kembali hasil jaringan seharga Rp 15.000 per karung.

"Kalau di Sungai Bengkulu setiap hari di sepanjang 25 kilometer sudah dipenuhi pengumpul limbah batu bara. Bahkan, nelayan juga sudah beralih profesi menjadi mengumpul limbah," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Ulayat Oka Adriansyah mengatakan, pencemaran pesisir dan laut di perairan Bengkulu berasal dari limbah batu bara yang terbawa lewat air Sungai Bengkulu.

Pencemaran sungai, kata dia, semakin parah dalam tiga tahun terakhir, di mana bongkahan batu bara dari bekas pencucian di lokasi pertambangan terbawa air sungai.

"Penambangan batu bara di hulu Sungai Bengkulu sudah berlangsung sejak tahun 1982 sehingga wajar kalau limbah batu bara sudah memenuhi Sungai Bengkulu, bahkan mencapai laut," terangnya.

Akibat limbah tersebut, kawasan pesisir menjadi kotor, air laut menjadi keruh, dan mengganggu ekosistem pesisir pantai.
Share on Google Plus

About Ulayat Blog

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar