Mahasiswa Banting Meja, Nyaris Terlibat Adu Jotos

Aksi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) siang kemarin (20/4) berakhir deadlock. Pasalnya desakan mahasiswa meminta agar Plt Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah, S.Ag ataupun yang mewakili menandatangani surat pernyataan yang dibawa oleh mahasiswa tidak terpenuhi.

Kericuhan antara perwakilan massa di ruang pertemuan Kantor Gubernur Bengkulu tidak bisa hindari. Bahkan adu jotos mahasiswa dan pejabat Pemda Provinsi hampir terjadi. Itu dipicu lantaran salah seorang PNS Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi, Tama melempar koran ke arah mahasiswa yang tengah berdialog dengan pejabat.

Berdasarkan pemantauan RB, kericuhan bermula sekitar pukul 10.30 WIB ketika 7 orang perwakilan massa, Presiden BEM UMB, Soni Taurus dan anggotanya Feri Vandali, Hendra Bustari, Andi Wijaya, Asep Suryadi, Risen Lubis melakukan dialog dengan beberapa pejabat Pemda Provinsi. Yang dipimpin oleh Asisten I, Drs Abdul Lamat, M.Si dan Asisten III Mardiansyah, dan didampingi Plh Kadis Pekerjaan Umum (PU) Provinsi, Andi Rosliansyah, Kepala BKD Provinsi, Nana Sudjana, S.Sos yang difasilitasi oleh Kapolres Bengkulu, AKBP H Joko Suprayitno terkait kerusakan jalan provinsi.

Mahasiswa yang sejak awal terlihat sudah emosional meminta kepada Plt Gubernur Bengkulu ataupun yang mewakili untuk menandatangi surat pernyataan. Isinya pertama Plt Gubernur atau yang mewakili siap menindak tegas angkutan kepala sawit dan batubara yang memiliki tonase lebih dari kententuan. Kedua Plt Gubernur atau yang mewakili bersedia segera memperbaiki dan meningkatkan kulitas jalan milik Provinsi. Apabila melalaikan pernyataan tersebut maka siap untuk dituntut dimuka persidangan.

Sebelum menjawab permintaan tersebut, Asisten I, Asnawi Abdul Lamat, meminta kepada kepada Plh Kadis PU Provinsi, Andi Rosliansyah dan Kadishubkominfo Provinsi yang diwakili Kabid Perhubungan Laut, Bardin menyampaikan informasi terkait pembangunan dan pengawasan jalan provinsi. Namun mahasiswa yang terlihat sudah tidak sabar mendesak pernyataan tersebut ditandatangani terus memotong penjalasan Andi dan Bardin.

“Brakkkk” Sony Taurus menggebrak meja. Melihat Soni menggebrak meja ternyata menyulut kemarahan Tama yang ada tepat dibelakang Andi. Adu mulutpun tidak terhindarkan. Tama yang tersulut emosinya selanjutnya melemparkan koran ke arah mahasiswa meski tidak mengena. Lemparan koran tersebut, tambah menyulut kemarahan mahasiswa. Sebagai bentuk perlawanan Soni pun membanting meja yang tepat berhadapan dengan meja Mardiansyah dan Asnawi. Kondisi pun semakin panas. Bahkan Tama bersama dengan temannya yang juga PNS dari Dinas PU Provinsi sempat mengajak Soni dan rekannya untuk berduel. “Sini kau, ayo keluar, kito selesaikan nian,” ucap Tama sambil menunjuk-nunjuk ke arah mahasiswa.

Kepada RB, Tama mengaku terpancing emosi, karena sikap mahasiswa yang terkesan tidak sopan dalam menyampaikan aspirasi. Apalagi gaya mahasiswa yang sering kali memotong pembicaraan. “Kalau dialog jangan tidak sopan seperti itu, tolong hargailah,” ungkapnya kesal.

Sementara itu melihat kondisi yang kian mamanas, sekitar 3 orang Satpol PP yang sudah berjaga-jaga didalam ruangan langsung memegang Soni dengan erat. Namun keributan tetap tidak bisa dileraikan. Untunglah dalam kondisi yang sangat panik tersebut, Kapolres langsung mengamankan situasi. Ia meminta Soni untuk tenang. “Sekarang saya tanya siapa yang lihat menggulingkan meja, kamu bisa dipidana,” ucap Kapolres sambil mengarah kepada Soni.

Mendengar perkataan Kapolres, Soni dan rekannya terdiam dan duduk kembali. Meski demikian, suasana masih cukup panas. Tatkala Asnawi mengatakan tidak bisa memenuhi permintaan mahasiswa untuk menandatangani surat pernyataan tersebut.

“Yang tertera dalam pernyataan ini, namanya masih kosong namun dibawahnya atas nama Plt Gubernur Bengkulu, H Junaidi Hamsyah. Jelas ini bukan kewenangan kami,” ucap Asnawi. Mendengar pernyataan Asnawi tersebut selanjutnya, mahasiswa meninggalkan ruangan.

Kepada RB mengatakan kekesalannya kepada pihak Pemda Provinsi karena permintaan untuk menandatangi pernyataan tidak dipenuhi. Apalagi alasan Pemda Provinsi tidak sesuai dengan fakta dilapangan. “Kami juga sangat menyayangkan ketika tengah berdialog, tiba-tiba ada yang melempari kami. Saya kira sebagai pejabat Pemda Provinsi tidak patut melakukannya,” ujarnya.

Sebagai bentuk kekecewaan dan buntut aksi kemarin, ia mengatakan hari ini (21/4) rencananya BEM UMB akan kembali melakukan aksi di depan Kampus II UMB, Jalan Salak Kelurahan Panorama. “Dalam aksi besok (hari ini,red) kami akan menggelar aksi berenang dijalan yang belubang,” ucap Sony.

Sementara itu, Kadishubkominfo Provinsi, Ali Berti dikonfirmasi terkait tuntutan mahasiswa mencopot dirinya, ia mengaku tidak masalah. Menurutnya selagi SK jabatannya belum dicabut, ia tetap akan melaksanakan tugas sebagai Kadishubkominfo. “Terkait dengan pengawasan jalan, berdasarkan peraturan yang baru, Dishubkominfo tidak diperkenankan melakukan penyetopan ditengah jalan. Jadi saya harap dimengerti,” terang Ali. (ble) Sumber: RB
Share on Google Plus

About Portal Ulayat

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar