Sawit: Ancaman ketahanan pangan Kabupaten Kaur

Perkebunan kelapa sawit skala besar merupakan ancaman ketahanan pangan Kabupaten Kaur:

Perkebunan kelapa sawit skala besar akan membahayakan ketahanan pangan lokal terutama wilayah kabupaten Kaur yang saat ini pemerintah daerahnya lagi gencar-gencarnya memasukan investor dari luar untuk pembangunan perkebunan

Bila nanti perkebunan kelapa sawit di di kabupaten Kaur beroperasi oleh PT Sepang Makmur dan Deseria Plantation Mining seluas 26.640 hektar, ketahanan pangan lokal Kabupaten Kaur akan terancam.Kekuatan pangan lokal akan hancur sehingga menyebabkan kelaparan, karena tanaman lokal akan dibabat habis untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit, sawah-sawah banyak dikonversi areal perkebuanan sawit, dan sawah-sawah yang masih tersisa akan kering karena tidak ada lagi hutan tempat penyipanan air.

Yang lebih menyeramkan, segala tanaman yang masuk dalam kawasan lokasi perkebunan akan dibabat habis ketika pihak perusahaan melakukan pembersihan lokasi,tidak akan ada yang tersisa. Hutan akan dibabat habis dan bibakar sehingga yang tinggal hanya ketandusan, bahkan rumput saja tidak akan nampak.

Benar-benar gawat kalau semua makanan pokok kita dibabat untuk perkebunan sawit, ini akan membuat kita tergantung terus pada pasokan pangan dari lampung yang diimpor dari Thailand dan vietnam. “Kita harus makan raskin terus, itukah yang dimau??

Karena itu masyarakat, para pemangku kepentingan harus berpikir apa yang harus dilakukan jika semua ini sudah terjadi, cara apa untuk mengatasi jika ketahanan pangan sudah hanya mimpi.

tulisan : imrodili
Share on Google Plus

About Ulayat Blog

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar