Lembaga Keuangan Mikro Sangat Dipengaruhi TI

Jakarta - Untuk lebih memberdayakan masyarakat, regulasi Teknologi Informasi (TI) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sangat dibutuhkan. Hal ini karena lembaga keuangan mikro di dunia juga dipengaruhi TI.

Dalam data Sharing Vision, sebuah lembaga riset telematika, menunjukkan bahwa kesuksesan lembaga keuangan mikro di dunia sangat dipengaruhi teknologi informasi. Beberapa bank skala mikro berhasil mensejajarkan diri dengan bank-bank besar karena menerapkan TI.

"Ambil contoh Grameen Bank cabang Koota, India yang menggunakan peranti lunak kode terbuka bernama MIFOS (Microfinance Opensource). Mereka menerapkan konsep web based management information system," ujar Dimitri Mahayana, Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, kepada detikINET, Sabtu (22/5/2010) petang.

Cara ini, sambungnya, memungkinkan antar cabang di Grameen Bank cabang Koota, India melakukan operasional perbankan secara real time, efisien, dan tidak kalah handal.

"Mereka hanya membutuhkan perangkat keras dengan spesifikasi rendah dan akses internet saja. MIFOS berhasil diinstalasi di 120 cabang kantor mencakup 280.000 klien. Tak kalah handal bukan?," katanya menerangkan.

Tak hanya itu, pria yang akrab dipanggil Pak Dim ini juga membeberkan contoh lainnya."Ada juga contoh sukses dari KIVA, lembaga mikro yang beroperasi di lebih dari 40 negara berkembang di dunia. Mereka menerapkan konsep pinjam-meminjam mikro secara online," katanya.

Dalam portalnya, lanjut Pak Dim, KIVA yang didirikan duo alumnus Stanford University ini, memiliki data ribuan pengusaha mikro yang siap memfasilitasi pemberian pinjaman kepada masyarakat kurang mampu.

"Karenanya, mengacu keberhasilan mereka, seharusnya diatur regulasi teknologi informasi khusus BPR. Agar ada pijakan hukum jelas, juga agar peran BPR di Indonesia bisa memberdayakan rakyat sebagaimana dilakukan Grameen Bank dan KIVA," tukasnya.
( afz / eno )

Sumber:
DetikInet
Share on Google Plus

About Loenbun Saja

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments :

  1. I'm interested in your article
    I also have the same article that you can read in http://ps-tsi.gunadarma.ac.id
    thank you

    BalasHapus