Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu di DAS Air Bengkulu

Kampanye Air Ulayat Ulayat ambil bagian dalam kampanye pengelolaan sumberdaya air di Indonesia, dengan konsep Integrated Water Resource Management on Negotiated Approach (IWRM-NA). Konsep dan pendekatan negosiasi ini adalah untuk mempertegas unsur partisipasi masyarakat dalam implementasi IWRM. Negotiated Approach adalah alat yang bertujuan untuk mempengaruhi dan meningkatkan manajemen sumberdaya air dengan mengakomodir kebutuhan dari seluruh pihak khususnya pengguna air atau masyarakat lokal. Keseluruhan sasaran dalam IWRM-NA adalah penggunaan sumberdaya air secara seimbang dan distribusi manfaat atas air.

Pengalaman dalam program hutan (catchment area) dan kemampuan pemberdayaan masyarakat lokal, mendorong Ulayat untuk mengembangkan program dengan pendekatan bioregion berupa Daerah Aliran Sungai. Site utama program ini adalah DAS Air Bengkulu, DAS regional yang memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi terutama bagi ibukota Propinsi Bengkulu.

DAS Air Bengkulu
Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Bengkulu seluas 51.000 ha terletak di dua kabupaten/kota yaitu Kabupaten Bengkulu Tengah di hulu dan bermuara di Kota Bengkulu. DAS Air Bengkulu dibagi menjadi 3 Sub DAS yaitu; 1) sub DAS Rindu Hati seluas 19.207 ha; 2) Sub DAS Susup seluas 9.890 Ha; dan 3) Sub DAS Bengkulu Hilir dengan luas 22.402 ha. DAS Air Bengkulu berbatasan dengan DAS Tanjung Aur dan DAS Babat di sebelah timur; Samudera Indonesia di sebelah selatan; DAS Air Hitam dan DAS Air Lemau di sebelah barat; dan di sebelah utara berbatasan dengan DAS Musi.

 Gambar 1. Peta DAS Air Bengkulu

DAS ini memiliki nilai konservasi yang sangat penting khususnya sebagai penyangga kehidupan masyarakat di ibukota propinsi Bengkulu. Kondisi ekositem DAS Air Bengkulu saat ini mengalami degradasi akibat dari belm adanya konsep pengelolaan yang baik dan terpadu. Hulu DAS Air Bengkulu sebagai wilayah tangkapan air tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Konversi hutan menjadi pertanian dan perkebunan, praktik penebangan kayu ilegal di hutan lindung dan cagar alam, serta pola pertanian yang tidak konservasitif adalah alasan-alasan utama meningkatnya erosi, sedimentasi dan fluktuasi debit sungai. Intensitas sedimentasi juga diperparah oleh eksploitasi tambang batubara di dua lokasi di hulu DAS Air Bengkulu. Degradasi ekosistem DAS Air Bengkulu juga terlihat dari menurunnya kualitas air sungai. Sungai Air Bengkulu kebanyakan dicemari oleh limbah industri dan tambang batubara.

KONSERVASI HULU DAS BERBASIS MASYARAKAT
Desa Rinduhati

Desa Rindu Hati berada di kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah (Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara tahun 2008) Provinsi Bengkulu, dengan jarak ± 15 km dari ibu kota kabupaten dan ± 40 km dari provinsi. Masyarakat Desa Rinduhati adalah suku asli Rejang Selupu yang telah mendiami derah ini semenjak tahun 1800. Desa ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Rindu Hati dan merupakan salah satu hulu dari DAS Sungai Bengkulu.

Desa Rindu Hati dari tahun-ketahun terus mengalami perubahan sebagai dampak dari tekanan ekologis. perubahan yang signifikan terjadi pada hutan dan berdampak pada menurunnya tingkat kesuburan tanah dan sumber air yang memiliki peran dalam mengaliri areal persawahan masyarakat dan masyarakat di hilirnya, hal ini terjadi dengan semakin meningkatnya tekanan terhadap keberadaan hutan lindung Rindu Hati dari gempuran masyarakat pendatang dan pertambangan batu bara di sekitar daerah ini.

Berdasarkan hasil perencanaan desa yang di susun bersama-sama masyarakat desa Rindu Hati permasalahan desa Rindu Hati secara umum dapat dikelompokan kedalam 7 (tujuh) kelompok issu yaitu; rendahnya produksi pertanian, lemahnya sistem ekonomi pertanian masyarakat, lemahnya kualitas sumberdaya manusia dan kelembagaan desa, minimnya fasilitas infrastruktur dan pelayanan kepada masyarakat, lemahnya control pengawasan kawasan hutan, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelstarian lingkungan, belum termanfaatkannya potensi wisata alam dan wisata sejarah.

Untuk mengatasi permasalahan yang ada saat ini, masyarakat Desa Rindu Hati telah menentukan Visi desa ke depan yaitu : “ Desa Rindu Hati Yang MaKmur, Bermartabat, Maju, Dan Sejahtera. Berbasis Ekonomi Pertanian Berkelanjutan Dan Ekowisata Dengan Menjaga Kelestarian Sumberdaya Alam, Hutan Dan Air “.
Selain sebagai panduan bagi masyarakat, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Rinduhati yang memuat pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan juga menjadi acuan bagi Pemda dan instansi terkait seperti Dephut dalam memprioritaskan program-programnya. Kegiatan implementasi perencanaan partisipatif yang telah dan sedang dijalankan diantaranya pemetaan tata guna lahan dan hutan secara partisipatif, pembangunan hutan desa (bekerjasama dengan BPDAS-Dephut), rehabilitasi sempadan sungai, pembangunan sarana air minum pedesaan secara swadaya, serta penguatan kelembagaan kelompok tani dan koperasi.

PENGUATAN KAPASITAS KELOMPOK MASYARAKAT (CSO) PENGGUNA AIR
Kapasitas dan potensi CSO dan pengguna air perlu dengan bijaksana diakomodasi oleh pemerintah pusat dan daerah. Untuk tujuan ini, pemerintah daerah harus lebih terbuka bagi partisipasi CSO, dari sekadar kerja fisik seperti memperbaiki kondisi fisik air dan sungai hingga kerja advokasi, yang ‘mengkritik’ pemerintah. Semua yang dilakukan, kita dapat berharap bahwa partisipasi OMS dalam pengelolaan sungai akan meningkat di jalan ke depan. Ulayat bekerjsama dengan LP3ES dan Telapak dengan dukungan dari WASAP World Bank menjalankan program penguatan kapasitas CSO dalam pengelolaan DAS Air Bengkulu.

Saat ini telah terbentuk Forum Masyarakat DAS Air Bengkulu yang beranggoatakan 18 kelompok masyarakat pengguna air dari hulu sampai hilir seperti kelompok tani, KP3A dan kelompok nelayan. Ulayat membantu memfasilitasi pertemuan dan pelatihan kapasitas kelembagaan kelompok serta pelatihan-pelatihan yang berhubungan konservasi sumber daya air.

Program ini juga berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat lokal untuk pelestarian sungai. Ulayat dan Forum Masyarakat DAS Air Bengkulu melakukan awareness dan advokasi terhadap masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai Air Bengkulu yang tercemar endapan limbah batubara. Partikel batubara yang mengendap di sungai Air Bengkulu adalah dampak dari operasi tambang batubara yang tidak lestari yang berada di hulu sungai. Masyarakat berhasil melakukan inisiatif dengan memulung sendiri endapan batubara. Inisiatif kongkrit masyarakat untuk pelestarian sungai ini juga memberi kontribusi income tambahan bagi masyarakat.
Share on Google Plus

About Portal Ulayat

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar