Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ... (lanjutan 3)

Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku??

Diskusi ini terus berlanjut, beberapa minggu yang lalu saya kembali lagi ke Bengkulu untuk berdiskusi dengan Kepala BKSDA Bengkulu beserta beberapa staffnya, NGO lokal dan beberapa temen media lokal. Mencoba mencari titik temu agar kepentingan keselamatan gajah dari kepunahan dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan bisa terpenuhi. Namun sampai sekarang belum ada titik temunya. Belum ada win win solution yang kita dapatkan.

Peningkatan status kawasan menjadi kawasan konservasi yang lagi diupayakan oleh BKSDA Bengkulu dan beberapa NGO disana masih belum bisa direalisasikan. Kepentingan bagi masyarakat atas keberadaan kawasan konservasi diwilayah mereka belum bisa diramalkan secara baik. Sampai sekarang kita masih mencari jawaban-jawaban apa manfaat bagi masyarakat jika status kawasan yang semula hutan produksi dengan fungsi khusus menjadi hutan konservasi?, kenapa gajah harus diselamatkan?, mengapa pemerintah daerah lebih baik memperluas areal perkebunan sawit daripada memikirkan upaya-upaya untuk penyelamatan gajah?, mengapa masih terjadi perburuan liar, mengapa masih terjadi illegal loging dan perambahan disekitar kawasan PKG Seblat? Apa yang salah dan mengapa semuanya bisa terjadi??

Kalo menurut pikiran saya yang pendek ini. Semuanya perlu keseimbangan. Pembangunan dan peningkatan segi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sangat perlu untuk ditingkatkan. Tapi kelestarian sebuah ekosistem dan keseimbangan alam juga sangat perlu diperhatikan. Nah, bagaimana mempertemukan berbagai kepentingan ini, dengan latar belakang orang yang berbeda-beda?? Tidak gampang ternyata.

Yang membuat saya menjadi sedih adalah pernyataan yang keluar dari seoarang pawang gajah yang ada di PKG Seblat. "Kalo kita tidak bertindak cepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di PKG Seblat ini, kemungkinan 5-10 tahun kedepan gajah-gajah liar yang ada di Bengkulu ini berikut gajah jinaknya sudah dipastikan tidak ada lagi di Bengkulu ini" ujarnya tegas kepadaku.

Saya ngga bisa bayangkan seandainya anak cucuku nanti bertanya padaku "Pak, katanya di Bengkulu ada Gajah ya?? Liat gajah yuk pak". Kemana saya harus mengajak anak cucu saya untuk melihat gajah di Bengkulu. Gajahnya sudah tidak ada lagi. Kasihan benar anak-anak kita dan generasi penerus kita nanti, menikmati indahnya alam, flora dan fauna di Nusantara ini hanya dari sebuah buku dan cerita-cerita, yang mungkin aja nanti gajah hanya sebuah dongeng??.....

Ditulis oleh Een Irawan Putra
Email: irawanputra@gmail.com
Share on Google Plus

About Loenbun Saja

Ulayat Adalah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis rakyat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments :

Posting Komentar