UlayatNews-Berita Lingkungan dan Sosial
Headlines News :

Latest Post

Workshop Evaluasi PNPM - LMP di Provinsi Bengkulu

Written By Benny Ritonga on Jumat, 18 Mei 2012 | 00:07

Bertempat di Hotel Santika, Bengkulu, berlangsung Workshop Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM – LMP). Acara yang digelar dari tanggal 7 – 9 Mei 2012 ini, dihadiri oleh para konsultan, FKL, Astal Kabupaten , Tenaga Ahli Propinsi, Perwakilan PMD,  NMC Jakarta , CSO,  serta dari pejabat pemerintah daerah mulai dari PjO Kecamatan, PjO Kabupaten , PjO Propinsi hingga Pejabat pusat. Workshop evaluasi ini diadakan sebagai salah satu bentuk evaluasi perkembangan dari kegiatan dan kinerja PNPM LMP di Bengkulu, apakah selama ini cukup berpengaruh. Serta apakah kinerja program menjadi lambat selama ini. Karena itu dibutuhkan evaluasi bersama serta rekomendasi kedepan terhadap jalannya program PNPM – LMP di Provinsi Bengkulu.

Dalam acara workshop evaluasi, terangkum dari pemaparan berbagai pihak bahwa dari indikator keberhasilan, program kegiatan PNPM – LMP cukup berhasil, namun dibalik keberhasilan tersebut perlu adanya peningkatan dalam hal pengimplementasian jadwal serta peningkatan dalam pengelolaan sumber daya financial.
Oleh karena itu, untuk menunjang kemampuan kedepan. dalam acara workshop evaluasi juga merekomendasikan kepada pelaku untuk terus mengasah kemampuan dalam menggali dan mendata keswadayaan masyarakat serta harus semakin proaktif dalam menjalin koordinasi dan kerjasama dengan berbagai institusi pemerintahan maupun lembaga lainnya.

      Dalam kesempatan acara workshop evaluasi, CSO PNPM – LMP juga turut membantu dan memeriahkan acara dengan membuka stand yang berisikan kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan serta menampilkan produk – produk buah tangan dari kelompok – kelompok masyarakat sebagai salah satu hasil dari PNPM – LMP dan penyadartahuan oleh CSO.

CSO PNPM - LMP Bengkulu mempersiapkan Stand


















Published Ulayat Bengkulu

8 Mei Ditetapkan Sebagai Coral Day Nasional

Written By Ulayat Blog on Kamis, 10 Mei 2012 | 20:43


ASTEKI8 Mei Ditetapkan Sebagai Coral Day Nasional Pulau Pramuka Menjadi Lokasi Puncak Penyelenggaraan Coral DayJakarta, 8 April 2012. Siang ini bertempat di Utan Kayu, sejumlah organisasi menetapkan tanggal 8 April sebagai Coral Day. Coral Day, Satu Hari Untuk Terumbu Karang merupakan inisiatif gerakan penyelamatan terumbu karang Indonesia.
 
Luas terumbu karang Indonesia yang mencapai 60,000 km2 rentan terhadap tekanan baik dari alam maupun dari manusia. Salah satu ancaman terhadap terumbu karang adalah sampah terutama sampah plastik. Warga yang tidak tinggal di pesisir juga berkontribusi untuk menyumbang rusak dan matinya terumbu karang yang ada di laut.
 
Sarwono Kusumaatmadja, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan,“Membuang sampah ke sungai juga ikut mempengaruhi kehidupan di laut. Menjaga laut tidak hanya menjadi tanggungjawab masyarakat yang tinggal di pesisir tetapi juga mereka yang tinggal di perkotaan.” Neviaty P. Zamani, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Kelautan IPB menambahkan,”Kondisi terumbu karang di Indonesia sudah kritis. Selain karena perubahan iklim manusia yang tidak bertanggungjawab dengan sampah dan perilakunya juga ikut menyumbang kerusakan terumbu karang dan mengganggu keseimbangan kehidupan laut.”
 
Coral Day hadir menjawab kegelisahan akan terancamnya terumbu karang Indonesia. Tanggal 8 Mei didaulat sebagai tanggal Coral Day sebagai penghargaan inisiatif rehabilitasi terumbu karang di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat lokal serta organisasi atau LSM terkait. Diharapkan masyarakat bisa ikut merayakan Coral Day dengan berbagai cara sederhana dan kreatif mulai dari menonton film yang memiliki nilai edukasi, berlibur dengan konsep ekowisata, berpartisipasi aktif dalam kegiatan seperti bersih pantai, dan berbagai cara lainnya.
 
Coral Day tahun ini berpusat di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta. Ery Damayanti, Koordinator Coral Day mengatakan, “Kepulauan Seribu sesungguhnya adalah wajah dari pengelolaan kepulauan di Indonesia. Kepulauan Seribu, wilayah kepulauan yang terdekat dengan ibukota negara menjadi salah satu perairan yang memiliki persoalan sampah yang sangat sulit diatasi. Dengan diselenggarakannya Coral Day di Pulau Pramuka kami berharap agar ada keseriusan dalam pengelolaan sampah oleh masyarakat secara mandiri.”
 
Acara Coral Day di Pulau Pramuka akan diselenggarakan pada 11 - 12 Mei mendatang dan diisi dengan ragam kegiatan seperti gerakan bersih pantai dan bawah laut, transplantasi karang untuk pembuatan Jakarta Coral Garden, edukasi mengenai terumbu karang untuk anak-anak, festival layang-layang, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Coral Day mengundang masyarakat untuk berkunjung ke Pulau Pramuka. Masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan lebih tentang lingkungan sekaligus berlibur dan melepas penat.
 
Masyarakat juga diajak untuk berpartisipasi melestarikan terumbu karang dengan mengadopsi karang. Prisia Nasution, aktris sekaligus penyelam mengatakan,”Kita kalau menyelam kan suka sekali melihat keindahan dunia bawah laut. Saya lihat memang sayang sekali sebagian banyak karang mati di Kepulauan Seribu. Nah dengan adopsi karang ini mudah-mudahan pesona bawah laut Kepulauan Seribu bisa semakin indah dan menarik lebih banyak wisatawan.“  Publikasi on : KotaHujan.com Ratusamban.com


Published Ulayat Bengkulu

Pelatihan Pengembangan Biogas

Written By Benny Ritonga on Rabu, 02 Mei 2012 | 05:19

"Kupas Tuntas Biogas dari A Sampai Z"
ulayat news : saat berlangsung materi tehnik pengoperasian
Ulayat news – Bengkulu Selatan, Biogas hingga saat ini masih menjadi bahan diskusi menarik, ini dikarenakan bukan hanya karena biogas dianggap sebagai sebuah kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat berbasis sumber daya alam semata, melainkan karena biogas saat ini semakin diminati oleh masyarakat. Ketertarikan masyarakat akan pemanfaatan biogas terlihat dengan semakin banyaknya usulan dari masyarakat, terutama dari daerah yang menjadi lokasi pilot PNPM – LMP. Dengan semakin meningkatnya keinginan masyarakat untuk mengusulkan Biogas Fixdome sebagai energi terbarukan untuk di desanya, membuat CSO PNPM – LMP di provinsi Bengkulu berkerjasama dengan HIVOS Biru dan Himpunan Pemuda-pemudi Air Sulau atau HIPAS mengadakan pelatihan pengembangan biogas, dengan tema “Kupas Tuntas Biogas dari A sampai Z”. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat terutama di tingkat pelaku dan masyarakat setempat dalam pembangunan dan pengembangan biogas kedepan.
Diikuti dari beragam masyarakat yang berasal dari dari Kecamatan Putri Hijau dan Kecamatan Lais Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kecamatan Kedurang Ilir Kabupaten Bengkulu Selatan,  para peserta diajak bersama untuk mengupas tuntas mengenai teknologi Biogas, mulai dari proses pembangunan instalasi, perawatan, pemanfaatan lain biogas, selain dari gas/api, pemanfaatan bio-sllury serta pemanfaatan lain biogas selain untuk memasak.
Dalam pelatihan pengembangan Biogas ini sendiri, menghadirkan pemateri diantaranya, Eko Pramono (Bidang Quality Control) dari HIVOS Biru Bandung, dan Mas Nano dari Yayasan Pendidikan Konservasi Alam atau YAPEKA. Selain itu, turut hadir sekaligus membuka acara pelatihan, Kepala Desa Air Sulau, Lilik Rafe’I, didampingi Spesialis Lingkungan, Handhaka Wisnu Wardhana, serta para Asisten Tenaga Ahli Lingkungan (ASTAL) dari Kabupaten Kaur, Kabupaten Bengkulu Selatan dan ASTAL Kabupaten Bengkulu Utara, serta para Koordinator Kabupaten (KorKab).
Dari pelaksanaan pelatihan biogas yang berlangsung dari tanggal 24 hingga 27 April 2012 ini, terungkap betapa tingginya rasa keingintahuan peserta dalam pengembangan teknologi energi terbarukan ini. Selain itu para peserta yang sebagian besar adalah penerima manfaat biogas dan tukang/teknisi juga diajak untuk menyampaikan inovasi – inovasi seputar biogas miliknya. Semisal Bapak Ansyori, penerima manfaat dari Desa Pal 30, Kecamatan Lais, Bengkulu Utara, menyampaikan inovasi seputar kompor gas LPG miliknya yang telah dimodifikasi menjadi kompor biogas.Pembina HIPAS, Agus S, mengatakan, sangat bersyukur dengan dilaksanakannya pelatihan pengembangan Biogas di desa mereka, apalagi, sehingga masyarakat, khususnya Desa Air Sulau semakin meminati biogas.
Seusai Acara, pemateri dari HIVOS Biru Bandung, Eko Pramono, memberikan apresiasinya kepada para peserta pelatihan, karena peserta sangat aktif dan rasa ingin tahu yang tinggi. “saya salut buat peserta – pesertanya, aktif, jadinya diskusi lebih hidup”
          Selain cerita – cerita menarik mengenai inovasi yang muncul dari peserta, masih ada cerita lain, dimana, biasanya disetiap pelatihan, sering dilaksanakan di sebuah aula besar, bahkan di hotel yang mewah, namun pelatihan kupas tuntas biogas kali ini dilaksanakan di desa air sulau, dimana peserta dan pemateri berbaur dengan masyarakat setempat, dan bahkan para peserta dan pemateri menginap selama 3 hari di rumah – rumah warga.
 Pada hari terakhir, puncak dari acara pelatihan pengembangan biogas ini, masyarakat Desa Air Sulau dan HIPAS mengadakan acara penutupan dengan menggelar acara hiburan, dengan menghadirkan pagelaran seni pencak silat khas sunda calung parahyang, pagelaran seni dari jawa kuda lumping, dan pegelaran seni gitar tunggal yang dibawakan oleh ibu-ibu dari daerah Pasma, Bengkulu.

ulayat news: praktek pembuatan pestisida organik berbasis biosllurry
















Published Ulayat Bengkulu

Bengkulu hadapi ancaman kerusakan lingkungan

Written By Ulayat Blog on Rabu, 04 April 2012 | 09:33

Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Tiga perusahaan di Bengkulu mendapat nilai merah dari Kementerian Lingkungan Hidup berdasarkan pemantauan kinerja pada 2011. "Hasil pemantauan terhadap lima perusahaan memang ada tiga yang mendapat rapor merah dan dua biru," kata Kepala Seksi Pengendalian Pengelolaan Limbah Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu Zainudin di Bengkulu. 

Tiga perusahaan yang mendapat rapor merah tersebut yaitu PTPN VII Unit Usaha Padang Plawi dan PT Bio Nusantara Teknologi yang bergerak di bidang produksi sawit dan PT Bukit Sunur yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. 

Rapor merah, lanjutnya, dengan kata lain kaidah pengelolaan lingkungan terkait limbah dan lain sebagainya belum memenuhi ketentuan. "Ketiga perusahaan berbeda-beda kelemahannya, dan kami sudah memberikan rekomendasi dan teknis perbaikan karena sebagian perusahaan masih minim tenaga teknisnya," kata dia. 

Sedangkan dua perusahaan mendapat rapor biru yakni PT Agri Andalas di Kabupaten Bengkulu Selatan dan PT Agro Muko di Kabupaten Mukomuko, keduanya bergerak di bidang produksi sawit. "Tujuan pemantauan ini adalah meningkatkan peran perusahaan dalam melakukan pengelolaan lingkungan," katanya. 

Program tersebut juga sekaligus diharapkan menimbulkan efek stimulan dalam pemenuhan regulasi lingkungan dan nilai tambah terhadap pemeliharaan sumber daya alam, konservasi energi dan pemberdayaan masyarakat. 

Ia mengatakan, BLH yang melakukan pengecekan langsung ke lapangan telah memberikan rekomendasi untuk perbaikan pengelolaan lingkungan, mulai dari pengelolaan bahan beracun dan berbahaya, pengurangan emisi, hingga instalasi pengelolaan air limbah. 

"Tahun ini kembali dilakukan terhadap lima perusahaan tersebut, kami harapkan ada perbaikan," kata dia. Sementara itu, Dosen Ilmu Kelautan Program Studi Kelautan Universitas Bengkulu Ari Anggoro menjelaskan limbah pencucian batu bara dari lokasi penggalian yang terbawa ke Sungai Bengkulu hingga muara dan laut akan mengganggu ekosistem perairan setempat. 

"Sisa batu bara bekas pencucian yang menjadi limbah sudah memenuhi Sungai Bengkulu bahkan terbawa hingga ke laut, ini jelas mengganggu ekosistem perairan," kata dia.

Ia mengatakan substrat batu bara yang terbawa hingga ke perairan Bengkulu itu akan menutupi karang sehingga pertumbuhannya terganggu. 

Jika batu bara menutupi terumbu karang maka bukan tidak mungkin karang tersebut akan mati sehingga merusak fungsinya untuk biota laut. Termasuk aktivitas pemuatan batu bara dari kapal tongkang ke kapal besar di sekitar perairan Pulau Tikus menurutnya sangat berbahaya bagi ekosistem pulau tersebut. 

Pendangkalan alur masuk Pelabuhan Pulau Baai diprediksi juga akibat proses pemuatan batu bara dilakukan di sekitar perairan Pulau Tikus. 

"Tumpahan batu bara dari proses pemuatan sudah memenuhi perairan sekitar Pulau Tikus, karena kami sudah melakukan penyelaman ke dasarnya, ini sangat berbahaya untuk pertumbuhan terumbu karang," katanya. 

Ia mengatakan, persoalan limbah batu bara tersebut harus dituntaskan di tingkat hulu, yakni proses penggalian yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah. Pemerintah, kata dia, seharusnya memperketat proses pengelolaan limbah bekas pencucian sehingga Sungai Bengkulu dan perairan tidak menjadi korban. 

Sebelumnya, para nelayan di Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu juga mengeluhkan pendapatan yang berkurang akibat limbah batu bara mencemari Sungai Bengkulu hingga laut menghabiskan populasi ikan di sungai tersebut. 

"Limbah batu bara yang menggenangi sungai sudah berlangsung cukup lama, namun tidak ada perhatian serius dari pemerintah daerah khususnya mengatasi pencemaran tersebut," kata seorang nelayan Malabero Refi. 

Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan sudah beralih profesi mengumpul limbah batu bara yang dapat dijual seharga Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per karung. 

Saat ini setiap nelayan menebar jala di perairan tersebut, bukan mendapat ikan dan udang lagi tapi batu bara karena tumpukannya di atas pasir pantai setempat sudah cukup tinggi. 

Kerusakan lingkungan dengan maraknya membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit turut serta meningkatkan perubahan suhu termasuk di Bengkulu. Kepala Pusat Perubahan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Edvin Aldrian menilai, pemanasan global yang terjadi saat ini antara lain dipicu makin luasnya tanaman kelapa sawit berbagai daerah di tanah air. 

Berdasarkan penelitian para ahli, lanjut dia, tanaman kelapa sawit sangat rakus akan air, sehingga semakin memicu terjadinya degradasi lahan. 

Ia menjelaskan, dampak kerakusan tanaman kelapa sawit itu selain memicu pemanasan global, juga berpengaruh terhadap kesuburan lingkungan, dengan demikian minyak sawit (CPO) dari Indonesia terancam tidak diterima pengusaha Amerika Serikat karena tidak memenuhi standar emisi yang ditetapkan yakni maksimal 17 persen. 

Dampak perubahan iklim secara global itu, yakni menimbulkan salju abadi di dunia diperkirakan hanya sampai pada satu generasi lagi dan selanjutnya akan menghilang.

"Tiga salju abadi di dunia yakni di Kenya, Papua dan Peru diperkirakan hanya akan ada sampai satu generasi lagi karena salju-salju tersebut mulai meleleh akibat terjadinya perubahan iklim," katanya. 

Menurunnya jumlah salju tersebut telah dapat dilihat sejak 1938 hingga 2000. Pada 2010, ekspedisi BMKG menemukan jumlah salju di Papua telah cukup banyak mengalami penurunan.

Pelelehan salju-salju abadi di bumi merupakan salah satu bukti dari pemanasan global. Bukti lainnya yakni terjadinya peningkatan suhu bumi, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan muka air laut. 

"Pemanasan suhu bumi tersebut tidak terlepas dari peran manusia yakni adanya peningkatan populasi yang ditunjukkan dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 237 juta pada 2010 dan pemanfaatan energi, sedangkan hubungan peradaban manusia dan pemanasan global ini berbanding lurus. 

Adapun perubahan iklim tersebut juga sangat berdampak di Indonesia seperti terjadinya peningkatan suhu, pergeseran awal musim dan perubahan peluang hujan ekstrem.

Untuk Bengkulu, perubahan ekstrem tersebut mengakibatkan penurunan drastis jumlah hujan tahunan.

"Yang ditakutkan dalam pemanasan global ini bukan kerusakan bumi tetapi komponen-komponen faktor pendukung daya hidup manusia yang salah satunya ditunjukkan dengan banyaknya serangan tomcat pada manusia akibat kerusakan habitatnya," kata dia. 

Larangan dan Upaya Penanggulangan 

Pelaksana Tugas Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah kembali menerbitkan surat imbauan tentang larangan mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi perkebunan, pertambangan dan permukiman di 10 wilayah kabupaten serta kota. 

"Kembali saya ingatkan kepada bupati dan wali kota agar menghentikan alih fungsi lahan pertanian menjadi peruntukan lain," kata dia. Ia mengatakan pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Pada pasal 44 menjelaskan, lahan yang sudah ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan dilindungi dan dilarang dialihfungsikan. 

"Peraturan Gubernur tentang larangan alih fungsi sudah diterbitkan pada 2010 tapi belum ditindaklanjuti dengan peraturan bupati," katanya. 

Sedangkan Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang larangan alih fungsi tersebut sudah diterbitkan, hanya saja di lapangan belum optimal pengawasannya sehingga masyarakat Lembak di sekitar Danau Dendam Tak Sudah mengeluhkan alih fungsi areal persawahan menjadi permukiman. 

Menurutnya, jika perlindungan terhadap lahan pangan tidak dilakukan pemerintah kota, maka program ketahanan pangan akan sulit tercapai. Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu Muslih mengatakan lahan pangan di beberapa kabupaten telah beralih menjadi pertambangan dan perkebunan. 

"Ada beberapa kabupaten yang tidak taat kesepakatan dewan ketahanan pangan dengan mengalihkan ladang pangan menjadi pertambangan dan perkebunan," katanya. 

Padahal menurut dia para bupati dan wali kota yang sekaligus ketua dewan ketahanan pangan di wilayah masing-masing telah menandatangani komitmen ketahanan pangan berisikan sembilan poin termasuk mempertahankan lahan pangan. 

Ia mengatakan tidak memiliki data terbaru mengenai kawasan lahan pangan yang dialihfungsikan untuk keperluan lain. Namun, dipastikan luas areal persawahan mengalami penyusutan sebesar 20 persen setiap tahun yang terjadi sejak enam tahun lalu. 

"Pada 2011 sawah tinggal 106 ribu hektare dibanding 2010 seluas 115 ribu hektare. Artinya, ada penyusutan seluas 9.000 hektare, kurang lebih menyusut 20 persen," katanya. 

Ia mengatakan, angka 20 persen penyusutan luas sawah di Bengkulu sama dengan penyusutan sawah secara nasional. Program intensifikasi lahan pertanian, khususnya sawah, harus segera ditingkatkan dengan pemberian bibit, dan pupuk secara gratis untuk menghindari alih fungsi lahan sawah sebagai basis ketahanan pangan daerah. 

Sedangkan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 akan menilai kinerja pengelolaan lingkungan lima perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di hulu Sungai Bengkulu.

"Penilaian tersebut melalui kegiatan penilaian pengelolaan lingkungan hidup atau Proper 2012 ada lima perusahaan tambang di hulu sungai," kata Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu Zainudin. 

Lima perusahaan tambang batu bara yang dinilai pengelolaan lingkungannya tersebut yakni PT Danau Mas Hitam, PT Bukit Sunur, PT Inti Bara Perdana, PT Kusuma Raya Utama dan PT Ratu Samban Mining. 

Ia mengatakan program penilaian peringkat kinerja perusahaan (Proper) terhadap lima perusahaan tambang batu bara tersebut untuk mengetahui penyebab utama pencemaran Sungai Bengkulu, yang salah satunya diakibatkan limbah batu bara. 

"Hasil dari proper terhadap lima perusahaan ini akan menunjukkan perusahaan mana yang berkontribusi atas pencemaran Sungai Bengkulu," katanya. Selama ini, kata dia, sejumlah pihak saling menuding dan lepas tangan terhadap kondisi Sungai Bengkulu yang sudah tercemar.

Limbah batu bara yakni bekas pencucian dari lokasi penggalian di hulu sungai diyakini menjadi salah satu penyebab pencemaran sungai itu. 

"Itu bisa dibuktikan dengan keberadaan ratusan warga yang mengumpulkan limbah batu bara di sepanjang aliran sungai karena limbah pun bisa dijual Rp12 ribu per karung," katanya.

Ia menambahkan, pada 2011 satu dari lima perusahaan tambang batu bara tersebut yakni PT Bukit Sunur mendapat nilai merah dari KLH. 

Pemberian rapor merah tersebut kata dia berarti pengelolaan lingkungan, termasuk limbah dan lain sebagainya, tidak sesuai ketentuan. 

Direktur Yayasan Ulayat Oka Adriansyah sebelumnya mengatakan aktivitas pengelolaan limbah yang buruk dari perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di hulu Sungai Bengkulu menjadi penyebab utama pencemaran sungai itu. 

"Sejumlah perusahaan tambang batu bara berkontribusi nyata terhadap pencemaran Sungai Bengkulu dan kami berharap hasil Proper dari KLH ini akan mempertegas itu," katanya.

Sementara itu, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Bengkulu pada 2012 memprogramkan akan menghijaukan lahan kritis seluas 5.000 hektare, terutama kawasan hutan taman nasional di daerah tersebut. 

"Rehabilitasi kawasan hutan taman nasional seluas itu tersebar di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Lebong, Seluma dan Rejang Lebong," kata Kepala BPDAS Bengkulu, Sumarsono, di Bengkulu. 

Ia mengatakan, untuk melaksanakan program rehabilitasi lahan kritis seluas 5.000 hektare itu, BPDAS Bengkulu akan melakukan kerja sama dengan pihak TNI di jajaran Korem 041 Garuda Mas (Gamas). 

"Kami akan menjalin kerja sama dengan TNI untuk melakukan penanam bibit kayu pada lahan kritis dalam kawasan hutan taman nasional yang ada di beberapa kabupaten di Bengkulu," ujarnya. 

Sumarsono mengatakan, jenis bibit kayu yang akan ditanam pada lahan kritis tersebut, antara lain kayu meranti, tenam dan jenis kayu kualitas ekspor lainnya. 

Bibit kayu itu ditanam karena dapat menahan erosi pada saat hujan, sehingga dapat mencegah terjadi banjir dan untuk merealisasikan rehabilitasi lahan kritis seluas itu membutuhkan bibit kayu sekitar 2 juta batang. "Bibit kayu yang kita butuhkan ini segera dipersiapkan, sehingga pelaksanaanya di lapangan dapat berjalan lancar," kata dia. 

Selain melakukan rehabilitasi lahan kritis di Bengkulu pihaknya juga pada 2012 menyiapkan sebanyak 500.000 bibit buah-buahan dan kayu penghijauan untuk pelaksanaan kegiatan penghijauan.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat Bengkulu agar terbiasa menanam kayu penghijauan dan buah-buah di lahan kosong yang ada di sekitar rumah atau ditempat lain.

Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menggadeng laboratorium Sucofindo untuk melakukan pengujian kualitas udara sekitar pabrik kelapa sawit di daerah itu. 

"Selain itu, pengujian terhadap kebisingan mesin semua pabrik kelapa sawit terhadap lingkungan sekitar," kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Mukomuko Risber.

Guna melakukan pengujian itu, pihaknya melibatkan semua perusahaan di daerah yang berjarak 270 kilometer sebelah utara Provinsi Bengkulu yang memiliki pabrik kelapa sawit sebagai konsumen yang membiayai pengujian yang dilakukan oleh pihak laboratorium tersebut.

"Mereka yang akan membiayai pengujian itu, sedangkan kami yang memberikan ide kepada perusahaan dengan tujuan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan di daerah ini," kata dia.

Ia menambahkan, hasil pengujian itu akan menjadi masukan untuk instansi tersebut dan semua perusahaan agar bisa melengkapi kekurangan jika kondisi udara sekitar pabrik tercemar.

Sejumlah perusahaan seperti PT Daria Darma Pratama dan PT Karya Sawitindo Mas menyatakan setuju kegiatan pengujian tersebut, tinggal menunggu tanggap dari perusahaan lain.

"Kegiatan pengujian kualitas udara dan kebisingan ini dilakukan terhadap semua perusahaan dan hasil yang diperoleh bisa menjadi masukan bagi semuanya," kata dia. 

Upaya pelestarian lingkungan pun dilakukan oleh Ruang Belajar Masyarakat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu dengan melibatkan para siswa SMA di daerah itu. 

Ketua Ruang Belajar Masyarakat (RBM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Kabupaten Mukomuko Erimas Juliardi mengatakan, salah satu perwujudan dari kegiatan kampanye hijau yang digelar dengan dipadukan kemah bakti sosial. 

Para siswa dari berbagai sekolah tingkat SMA yang dilibatkan dari kegiatan mengikuti serangkaian acara yang telah disusun oleh panitia pelaksana sebelumnya berkaitan dengan kampanye pelestarian lingkungan. 

Kegiatan kampanye hijau tersebut, menurut dia, meliputi sarasehan pelestarian lingkungan, lomba poster lingkungan serta melakukan penanaman tanaman kehutanan dan buah-buahan.




KLH nilai kinerja perusahaan tambang batu bara

Written By Ulayat Blog on Selasa, 03 April 2012 | 06:18

Aktivitas pertambangan di salah satu areal kuasa pertambangan di Provinsi Bengkulu. KKI Warsi Bengkulu menilai alih fungsi kawasan hutan Bengkulu dalam revisi RTRW 2012 sebagian besar untuk kepentingan pemodal, termasuk pengusaha tambang batu bara. (FOTO ANTARA/istimewa)Bengkulu (ANTARA Bengkulu) - Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 akan menilai kinerja pengelolaan lingkungan lima perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di hulu Sungai Bengkulu.


"Melalui kegiatan penilaian pengelolaan lingkungan hidup atau Proper 2012 ada lima perusahaan tambang di hulu sungai yang akan dinilai," kata Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bengkulu Zainudin di Bengkulu, Selasa.

Lima perusahaan tambang batu bara yang dinilai pengelolaan lingkungannya tersebut, yakni PT Danau Mas Hitam, PT Bukit Sunur, PT Inti Bara Perdana, PT Kusuma Raya Utama dan PT Ratu Samban Mining.

Ia mengatakan program penilaian peringkat kinerja perusahaan (Proper) terhadap lima perusahaan tambang batu bara tersebut untuk mengetahui penyebab utama pencemaran Sungai Bengkulu, yang salah satunya diakibatkan limbah batu bara.

"Hasil dari Proper terhadap lima perusahaan ini akan menunjukkan perusahaan mana yang berkontribusi atas pencemaran Sungai Bengkulu," katanya.

Selama ini, kata dia, sejumlah pihak saling menuding dan lepas tangan terhadap kondisi Sungai Bengkulu yang sudah tercemar.Limbah batu bara yakni bekas pencucian dari lokasi penggalian di hulu sungai diyakini menjadi salah satu penyebab pencemaran sungai itu.

"Itu bisa dibuktikan dengan keberadaan ratusan warga yang mengumpulkan limbah batu bara di sepanjang aliran sungai karena limbah pun bisa dijual Rp12 ribu per karung," katanya.

Ia menambahkan, pada 2011 satu dari lima perusahaan tambang batu bara tersebut yakni PT Bukit Sunur mendapat nilai merah dari KLH. Penilaian rapor merah tersebut kata dia berarti pengelolaan lingkungan, termasuk limbah dan lain sebagainya, tidak sesuai ketentuan.

"Mudah-mudahan tahun ini ada perbaikan karena kami sudah menyerahkan hasil penilaian dan rekomendasi," ujarnya.

Direktur Yayasan Ulayat Oka Adriansyah sebelumnya mengatakan aktivitas pengelolaan limbah yang buruk dari perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di hulu Sungai Bengkulu menjadi penyebab utama pencemaran sungai itu.

"Sejumlah perusahaan tambang batu bara berkontribusi nyata terhadap pencemaran Sungai Bengkulu dan kami berharap hasil Proper dari KLH ini akan mempertegas itu," katanya.(rni)

Original Links: http://antarabengkulu.com/berita/2533/klh-nilai-kinerja-perusahaan-tambang-batu-bara


Warga tolak kehadiran tambang batu bara

Written By Ulayat Blog on Kamis, 22 Maret 2012 | 20:14

Warga Desa Rindu Hati, Kabupaten Bengkulu Tengah, menolak rencana perusahaan tambang batu bara PT Bara Mega Quantum yang akan beroperasi di sekitar hulu Sungai Air Bengkulu.

"Kami menolak kehadiran perusahaan tambang itu karena lokasi penggalian berada di hulu Sungai Air Bengkulu dan jelas mengancam mata air," kata Kepala Desa Rindu Hati Sutan Mukhlis di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan, kegiatan perusahaan itu tidak hanya akan merusak sumber air bersih, tetapi perusahaan juga sudah mengkapling sawah dan kebun masyarakat untuk dijadikan kawasan kuasa pertambangan (KP).

Tidak hanya itu, kata dia, lokasi pencadangan KP yang ditunjuk Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah kepada perusahaan itu juga berada di lokasi penghijauan program kebun bibit rakyat (KBR) dari Dinas Kehutanan setempat.

"Kami jadi bingung karena program antardinas berbenturan di lapangan, jadi kami meminta pemerintah mengkaji ulang pemberian izin itu," katanya.

Sutan juga mempertanyakan proses penyusunan Amdal sama sekali tidak melibatkan masyarakat, ternyata sidang komisi sudah putus tanpa sepengetahuan mereka.

Perusahaan pertambangan PT Bara Mega Quantum mendapat izin kuasa pertambangan seluas 1.999 hektare, di mana sebagaian arealnya mencakup sawah dan kebun kopi serta karet milik warga desa.

Mukhlis mengatakan daya rusak pertambangan sangat besar, padahal warga di sekitar lokasi pertambangan tetap hidup dalam kemiskinan.

"Kecamatan Taba Penanjung dipenuhi perusahaan tambang batu bara selama 20 tahun tetapi masyarakat tetap miskin di daerah kami," katanya.

Sementara itu, Yayasan Ulayat menilai kehadiran perusahaan pertambangan baru itu akan memperparah kerusakan daerah aliran Sungai Air Bengkulu dan berpotensi besar menimbulkan konflik sosial.

"Jika perusahaan itu beroperasi maka hak masyarakat akan akses sumber air bersih akan hilang, konflik akan terjadi," katanya.

Ia mengatakan masyarakat Desa Rindu Hati sudah menolak kehadiran perusahaan itu karena aktivitasnya mengancam lahan garapan dan merusak lingkungan.

Manajer Kampanye Walhi Bengkulu Benny Ardiansyah mengatakan selain PT Bara Mega Quantum yang menyerobot lahan perkebunan dan persawahan warga serta mengancam kerusakan hulu sungai, dua perusahaan tambang lainnya juga berkonflik dengan masyarakat.

Dua perusahaan tersebut bergerak di bidang tambang bijih besi yakni PT Selomoro Banyu Arto di Kabupaten Kaur dan PT Paminglevto di Kabupaten Seluma.

"Dua perusahaan tambang tersebut mengeruk bibir pantai untuk menambang pasir bijih besi," katanya.

Benny mendesak pemerintah mengkaji ulang izin ketiga perusahaan tambang batu bara tersebut sebab potensi konflik sosial dengan daya rusak lingkungan yang tinggi. (RNI) 


Sumber AntaraBengkulu : Link http://antarabengkulu.com/berita/2286/warga-tolak-kehadiran-tambang-batu-bara
Published Ulayat Bengkulu

Pengumpul limbah batu bara padati pantai Pasar Bengkulu

Written By Ulayat Blog on Rabu, 21 Maret 2012 | 20:08

Ratusan warga, Rabu, memadati pesisir Pantai Pasar Bengkulu, Kota Bengkulu, untuk mengumpulkan limbah batu bara yang hanyut dari Sungai Bengkulu hingga ke laut lepas.

Pemandangan ratusan warga dengan jaring halus untuk mengumpulkan limbah batu bara itu telah berlangsung dalam dua pekan terakhir, sejak cuaca buruk melanda perairan Bengkulu.

"Kalau angin barat berhembus memang membawa sampah ke darat, termasuk limbah batu bara, makanya pengumpul limbah beralih ke pantai Pasar Bengkulu," kata Andi Apriansyah, salah seorang pengumpul limbah batu bara saat ditemui di Pantai Pasar Bengkulu.

Warga Desa Pasar Pedati Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah, yang berbatasan dengan Kota Bengkulu ini mengatakan sudah dua pekan melakukan pengumpulan limbah, khusus di Pantai Pasar Bengkulu.  Menurutnya, keberadaan limbah batu bara sangat tergantung pada kondisi cuaca, terutama pergantian angin Barat dan angin Selatan.

"Kalau angin Selatan yang berhembus, biasanya pantai bersih, limbah sama sekali tidak ada, jadi kami mengambil limbah di sungai Bengkulu sampai ke muara," katanya.

Andi yang melakukan pengumpulan limbah tanpa bantuan anggota keluarnya mampu mengumpulkan delapan karung dengan rata-rata 70 kilogram per hari yang dijual Rp12 ribu per karung.

Pengumpul lainnya Aladin, warga Kelurahan Pasar Berkas Kota Bengkulu mengatakan sudah empat tahun menjadi pengumpul limbah batu bara dengan lokasi yang berpindah-pindah.

"Kalau cuaca buruk biasanya limbah muncul di pantai seperti sekarang ini, ratusan pengumpul akan memadati Pantai Pasar Bengkulu," katanya.

Ayah tiga anak ini mengatakan, jika tidak ada limbah yang terbawa arus ke daratan, ia akan melaut dengan perahu tradisional berpenghasilan rata-rata Rp50 ribu per hari.

Namun, dari pengumpulan limbah batu bara dapat menambah penghasilan dari Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

"Kalau cuaca buruk saya tidak melaut, lebih aman cari batu bara, apalagi duitnya juga lebih banyak," katanya.

Pembeli limbah batu bara dari para pengumpul, Fitriani mengatakan mampu membeli 100 karung batu bara ukuran paling halus seharga Rp10 ribu per karung setiap harinya.

"Kami masih menjual ke pengumpul lainnya yang menjual batu bara ini ke Jakarta dan kota lain di Jawa," katanya.

Menurutnya, limbah batu bara yang terbawa dari hulu sungai lokasi eksploitasi di Kabupaten Bengkulu Tengah telah menambah pendapatan masyarakat setempat.

Tidak hanya warga lokal, warga luar kota hingga provinsi tetangga seperti Lintang Sumatra Selatan juga datang ke pesisir Bengkulu untuk mengumpulkan limbah tersebut.

"Masyarakat ini membantu membersihkan sungai dan pesisir dari limbah batu bara hasil pencucian dari perusahaan penggali tambang di hulu Sungai Bengkulu," katanya. (KR-RNI/Z002)



Sumber ANTARABengkulu : Link http://antarabengkulu.com/berita/2254/pengumpul-limbah-batu-bara-padati-pantai-pasar-bengkulu


Published Ulayat Bengkulu

Hutan Sumatera Habitat Spesies Langka

Written By Ulayat Blog on Selasa, 20 Maret 2012 | 14:13

Photo By: Komunitas Peduli Puspa Langka
http://www.facebook.com/puspalangka  
Hutan Tropis Sumatera adalah tempat pelestarian bagi habitat dari beberapa spesies yang hampir punah seperti, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Badak Sumatera yang merupakan spesies Badak terkecil dan memiliki dua cula.


Luas dari Hutan Hujan Tropis Sumatera seluruhnya adalah 2,5 juta hektar yang terdiri dari 3 Taman Nasional di Sumatera, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tempat ini juga tempat berbagai jenis tumbuhan endemik seperti, kantong semar, bunga terbesar di dunia Rafflesia Arnoldi, dan bunga tertinggi Amorphophallus titanum.



Hutan hujan tropis Sumatera harus senantiasa dijaga kelestariannya. Terutama dari ancaman penggundulan hutan, penambahan hutan untuk pertanian dan pembuatan jalan, serta perburuan. Apabila kawasan ini tidak dilindungi, maka keanekaragaman hayati yang hidup di sana terancam punah. Selain itu, hutan hujan tropis Sumatera berperan penting dalam stabilitas suplai air, ekologi, dan ekonomi, serta menekan pengaruh kekeringan dan kebakaran. 



Setidaknya 92 jenis endemis lokal telah diidentifikasi di Taman Nasional Gunung Leuser. Nominasi ini berisi populasi dari kedua bunga terbesar di dunia Rafflesia arnoldi dan bunga tertinggi Amorphophallus titanium, tempat ini sangat penting bagi konservasi vegetasi pegunungan khusus dari properti tersebut.



Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) di Bengkulu



Upaya pelestarian dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati terutama bunga langka Rafflesia Arnoldi secara berkelanjutan terus dilakukan oleh sekelompok masyarakat Bengkulu yang mengatasnamakan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL).  Organisasi ini terbentuk berangkat dari keprihatinan atas nasib spesies rafflesia di Bengkulu. Berawal dari jejaring social facebook pada bulan Desember 2010, orang orang yang tergabung dalam komunitas peduli puspa langka secara berkelanjutan melakukan melakukan investigasi dan monitoring puspa langka di Bengkulu.



Seperti disebut diatas, dibentuknya komunitas ini didasari oleh kepedulian terhadap puspa langka yang semakin hari semakin terancam habitatnya akibat perambahan hutan juga minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi puspa langka yg ada di Bengkulu. KPPL berharap bunga Rafflesia arnoldii, Amorphophallus (bunga kibut), Anggrek endemik Bengkulu, dan puspa lainnya dpt tumbuh aman dan terjaga, sehingga masyarakat atau dunia luar tidak hanya mengenal bunga tsb dari foto atau gambar saja tetapi berkeinginan utk datang ke habitat aslinya di hutan Bengkulu dan menikmati keelokannya, sesuai dengan sebutan Provinsi Bengkulu sebagai bumi rafflesia atau the land of rafflesia.



Menurut Sofyan (ketua KPPL) Komunitas ini memiliki anggota yang terdiri dari berbagai latar belakang ilmu dan profesi, anggotanya tidak hanya berasal dari Bengkulu, tetapi juga banyak yg berasal dari propinsi lain bahkan luar negeri.


Komunitas berharap bunga Rafflesia arnoldii, Amorphophallus (Bunga Kibut), Anggrek endemik Bengkulu, dan puspa lainnya dapat tumbuh aman dan terjaga, sehingga masyarakat atau dunia luar tidak hanya mengenal bunga tsb dari foto atau gambar saja tetapi berkeinginan utk datang ke habitat aslinya di hutan Bengkulu dan menikmati keelokannya, sesuai dengan sebutan Propinsi Bengkulu sebagai Bumi Rafflesia atau The Land of Rafflesia.


Komunitas Peduli Puspa Langka telah memberikan kontribusi positif bagi promosi wisata Rafflesia melalui blogger, website, facebook dan juga Media lokal maupun nasional, puluhan wisatawan baik domestik maupun mancanegara secara bergantian berdatangan melihat bunga Rafflesia mekar sempurna di hutan Bengkulu, salah satunya di Hutan Lindung Bukit Daun desa Tebat Monok Kepahiang. 



Pemberitahuan Alamat Baru Ulayat Bengkulu

Written By Ulayat Blog on Jumat, 09 Maret 2012 | 01:16

Yayasan Ulayat Bengkulu, Terhitung tanggal 01 Maret 2012 pindah ke alamat baru di :

Jl. Kesehatan No.42 Rt 02/01 Kel. Anggut Bawah Kec. Ratu Agung Kota Bengkulu 38223 Telp/Fax 0736 21248

Alamat bisa dilihat di Google Maps : http://maps.google.co.id/maps/user?uid=211216328178690627265&hl=id&gl=id

Published Ulayat Bengkulu

Tiga PLTMH Dibangun di Kabupaten Kaur

Written By Benny Ritonga on Kamis, 08 Maret 2012 | 06:14

Kaur (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup melalui program nasional pemberdayaan masyarakat lingkungan mandiri perdesaan membangun tiga pembangkit listrik tenaga mikro hidro di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu.

"Pembangunan PLTMH dipusatkan di Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur dimana akan dibangun tiga PLTMH yang berlokasi di tiga desa," kata Koordinator pendamping Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP) Kabupaten Kaur, Emrodili di Kaur, Senin.

Pembangunan tiga pembangkit tersebut didanai Kementerian Lingkungan Hidup untuk pengembangan program energi terbarukan sebesar Rp4 miliar.
Tiga pembangkit listrik itu akan dibangun di Desa Pasar Jumat, Desa Bukit Indah, dan Desa Muara Dua.
"Sumber air untuk pembangkit turbin akan dihasilkan dari aliran Sungai Kulie Sialang dan anak sungai Kulie," tambahnya.

Emrodili mengatakan, pembangunan PLTMH awalnya diusulkan oleh empat kabupaten yang merupakan pilot program PNPM-LMP di Provinsi Bengkulu yakni Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara, Lebong dan Kabupaten Bengkulu Selatan.
Hasil seleksi tim verifikasi dari pusat memutuskan Kabupaten Kaur menjadi daerah yang mendapat alokasi dana pembangunan pembangkit listrik tersebut.
"Saat ini baru dalam tahap penentuan lokasi pembangunan perangkat untuk PLTMH dan pengerjaan fisik akan dimulai akhir Januari 2012," tambahnya.
Komponen yang dibangun antara lain bendungan, saluran pembaur, saluran intake, bak penampungan dan rumah turbin.

Ia mengatakan satu pembangkit diperkirakan akan menghasilkan 20 kilowatt daya listrik sehingga cukup untuk menerangai seluruh rumah di tiap desa.
"Seperti di Desa Bukit Indah terdapat 190 rumah tangga yang akan diterangi dimana tiap rumah membutuhkan daya 110 watt," ujarnya.
Emrodil mengatakan pembangunan PLTMH memiliki potensi tinggi di Kabupaten Kaur, bahkan hampir 50 persen desa di kabupaten tersebut memiliki sumber daya untuk menghasilkan energi ramah lingkungan dan terbarukan itu.

Selain pengembangan PLTMH untuk menghasilkan penerangan, program PNPM untuk energi terbarukan di Kabupaten Kaur juga dikembangkan dengan arang aktif dari tempurung kelapa.
sumber

Published Ulayat Bengkulu

Ulayat News

More News »

DAS Bengkulu

More DAS Bengkulu »

Press Conference

More News »

Konflik Agraria

More News »

Green Project

More News »

Kliping Media

More News »

Fakta

U-Artikel

 
Creative Team : InPub Division | Thanks To Boekan Kippy | Coagen Art
Copyright © 2011. UlayatNews-Berita Lingkungan dan Sosial - All Rights Reserved
Ulayat Group